Tuesday, April 29, 2008

All English Final Di Liga Champions


rofi Liga Champions 2007-08 dipastikan jadi milik klub asal Inggris setelah Manchester United menundukkan Barcelona 1-0 pada leg kedua semifinal yang dimainkan di Old Trafford, Rabu dinihari ini. MU melangkah dengan aggregate 1-0 lewat gol tunggal Paul Scholes.

Hasil tipis tersebut cukup bagi MU mengantongi satu tiket final di Moskow, Rusia, pada 21 Mei. MU yang juga berpeluang menjuarai Liga Premier kini tinggal menunggu calon lawan: Chelsea atau Liverpool yang akan ditentukan dari leg kedua di Stamford Bridge, dinihari besok. Raihan ini menjadi final pertama MU sejak tampil juara pada 1999.

MU yang menahan imbang 0-0 pada laga pertama ganti menjamu Barcelona. Benar saja, Wayne Rooney (panggul) dan Nemanja Vidic (bibir sobek) tidak terdapat dalam line-up. Yang mengejutkan, Sir Alex Ferguson memasukkan nama Luis Nani sebagai starter. Sementara itu bos Barcelona, Frank Rijkaard menampilkan susunan pemain terbaiknya.

MU harus menang dan tidak bisa menunggu. Barcelona pun demikian, Los Blaugrana sadar harus mencetak gol terlebih dahulu untuk memberi tekanan ke kubu tuan rumah. Kick-off bergulir, Barcelona dengan Lionel Messi menguasai alur bola. Namun MU dengan menanti gebrakan. Menit ke-14 publik Old Trafford bersorak gembira. Menerima bola dari kesalahan Gianluca Zambrotta, Scholes melepaskan tembakan setengah voli dari jarak sekitar 27 meter. Bola meluncur deras mengoyak gawang tanpa sanggup dihentikan Victor Valdes. MU memimpin 1-0.

Tim tamu merespon. Menit ke-19 penterasi Lionel Messi dan diteruskan dengan tendangan kaki kiri berhasil diselamatkan Edwin van der Sar dengan brilian. Pertarungan menjadi menarik dan tempo lebih berkembang setelah MU unggul. Memasuki setengah jam pertandingan, Barcelona mulai mengambil dominasi permainan. Deco dua kali mengancam namun tendangannya belum ada yang menemui sasaran. Serangan yang dibangun Andres Iniesta di menit ke-37 membuat Van der Sar berjibaku.

Di babak kedua MU menggebrak dengan serangan yang digadang duo Portugal. Nani yang bergerak masuk menyontek umpan tarik Ronaldo namun bola diblok Eric Abidal. Klaim handball di dalam kotak penalti kubu MU diacuhkan wasit Hebert Fandel. Tiga menit kemudian, atau menit ke-57 tendangan Tevez yang sebelumnya bekerjasama satu-dua dengan Ronaldo berhasil diblok Valdes. Sedangkan kerjasama serupa Deco dan Messi dimentahkan Brown dua menit kemudian.

Barcelona yang tertinggal menaikkan tempo tekanan. MU lebih banyak menumpuk di pertahanannya sendiri. Rijkaard memasukkan Thierry Henry dan beberapa menit kemudian Bojan Krkic yang menggantikan Samuel Eto’o yang tampil tidak efektif. Masuknya dua penyerang itu membuat serangan Barcelona lebih tajam.

Henry misalnya, memaksa Van der Sar menjatuhkan badan untuk mengantisipasi tendangan melengkung pada menit ke-81. Sedangkan sebelumnya Ferguson menarik keluar pahlawan kemenangan, Scholes. Upaya keras Barcelona sia-sia. Rio Ferdinand yang menjabat ban kapten dan pemegang komando pertahanan mampu meredam dengan tenang. Sampai peluit akhir berbunyi MU mempertahankan kedunggulan 1-0.

Susunan pemain:
Man Utd: Van der Sar; Hargreaves, Ferdinand, Brown, Evra (Silvestre 90); Scholes (Fletcher 76), Carrick (kk), Ji-Sung, Nani (Giggs 76); Ronaldo (kk); Tevez.
Barcelona: Valdes; Zambrotta (kk), Puyol, Milito, Abidal; Toure Yaya (kk) (Gudjohnsen 88), Xavi, Deco (kk); Iniesta (Henry 60), Eto'o (Bojan 72), Messi.
Wasit: Herbert Fandel (Jerman).

Fergie : Scholes Dkk Fantastis


Ketegangan mewarnai wajah Sir Alex Ferguson menjelang leg kedua semifinal Liga Champions di Old Trafford, Rabu dinihari—WIB. Barulah seusai wasit Herbert Fandel meniup peluit panjang tanda usainya partai Manchester United versus Barcelona, tersembul senyum puas dari wajah Ferguson.

Itulah gambaran betap gembiranya manajer MU itu setelah tim besutannya memastikan tampil dalam partai final Liga Champions 2007-08 di Luzhniki Stadium, Moskow, Rusia. Gol tunggal dari tendangan keras Paul Scholes mengantar MU ke final untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun.

Di final MU akan berhadapan dengan sesama klub Inggris, antara Chelsea atau Liverpool yang akan memainkan partai penentuan pada Kamis dinihari (WIB) nanti. Berarti dipastikan gelar kembali mendarat di daratan Inggris setelah terbang empat tahun, yang terakhir diboyong Liverpool pada 2004. Untuk pertama kalinya dalam sejarah all-English final tercipta di Liga Champions.

Tak pelak pujian pun dialamatkan pada mantan gelandang Timnas Inggris berusia 33 tahun. Ferguson menjanjikan Scholes pasti akan tampil pada partai yang digelar 21 Mei nanti. Scholes pada final 1999 hanya bisa menyaksikan rekan-rekannya bertarung di lapangan ketika menundukkan Bayern Muenchen.

“Dia (Scholes) salah satu pemain terhebat dan ia menunjukkan kapasitasnya malam ini (waktu setempat),” puji Ferguson, seperti dikutip BBC. Namun manajer gaek asal Skotlandia itu juga menyanjung anak asuhnya yang lain, termasuk dukungan fantastis fans MU di Theatre of Dreams. “Saya sangat senang dengan (pemain) yang lain. Perasaan yang luar biasa. Klub ini memang pantas tampil di final.”

Secara keseluruhan MU yang tampil tanpa Wayne Rooney dan Nemanja Vidic, berada dalam kondisi tertekan sepanjang pertandingan. Barcelona mendominasi mutlak ball-possession. Tekanan bertubi-tubi mendera pertahanan MU namun Rio Ferdinand mampu mengkomandoi rekan-rekan untuk meredam. Praktis tidak terlalu banyak peluang bagus yang diperoleh Lionel Messi dkk.

Ferdinand menjadi salah satu di antara beberapa pemain MU yang bermain bagus. Wes Brown yang jadi partner Ferdinand di posisi palang pintu juga mampu menggantikan peran Vidic dengan sempurna. Patrice Evra bermain lugas. Park Ji-Sung tampil penuh determinasi tampil menyerang atau membantu lini pertahanan. Cristiano Ronaldo tampil di bawah form karena mendapat pengawalan ketat, sedangkan Carlos Tevez tampil tanpa lelah di depan tanpa Rooney.

“Kami terpaksa bertahan karena Barcelona tampil menekan. Anak-anak bermain disiplin dan seorang pemain hebat (Scholes) mencetak gol fantastis yang membuat kami melangkah—ke final. Tidak peduli siapa lawan kami, karena kami akan siap,” tandasnya. Terang saja, karena Ferguson tahu betul kekuatan Chelsea ataupun Liverpool.

Monday, April 14, 2008

Asa 26 April 2008


Manchester United di ambang juara Liga Premier Inggris 2007-08. Kemenangan dari Arsenal memukul salah satu rival berat. Skor pertandingan di Old Trafford, Minggu (13/04), berakhir 2-1 bagi tuan rumah dan mengubur harapan The Gunners. Walau secara matematis masih mungkin mengejar, tapi defisit sembilan poin dengan empat pertandingan sisa sangat berat rasanya bagi pasukan Arsene Wenger mengejar ketinggalan.

Sehari kemudian atau tepatnya dinihari tadi (WIB) kabar gembira dipetik kubu The Red Devils. Pasalnya satu saingan berat lainnya, Chelsea diluar perkiraan ditahan Wigan Atheltic. Di Stamford Bridge, The Blues harus puas mendulang satu poin setelah bermain imbang 1-1 dengan lawan yang menargetkan ‘hanya’ lolos dari jerat degradasi.

Kesempatan memangkas selisih poin kembali ke angka tiga dibuang percuma John Terry dkk. Gol Michael Essien tidak mampu diamankan sampai detik akhir pertandingan. Dan Emile Heskey menampar publik Stamford Bridge lewat golnya di masa injury time. Semakin mulus saja jalan MU jadi juara dua kali berturut-turut atau gelar juara liga terelite Inggris untuk ke-17 kalinya.

Terlepas kemungkinan mengawinkan juara liga domestik dengan Liga Champions, Sir Alex Feguson optimis trofi Liga Premier bisa dipertahankan. Bahkan bos MU itu memiliki ambisi tersendiri yang makin menambah satir rival-rivalnya. Satu terhadap Arsenal sudah. Kini giliran Chelsea. Ferguson ingin MU memastikan kampiun di Stamford Bridge, setelah duel langsung dengan The Blues pada 26 April.

“Saya telah katakan (kepada Ryan Giggs dkk) sebelum menghadapi Arsenal bahwa jika meraih tiga kemenangan di depan berarti merengkuh gelar,” kata Ferguson seperti dilansir www.manutd.com. “Saya yakin kemenangan dari Blackburn dan Chelsea, dan dengan keunggulan selisih gol, kami akan tampil juara.”

Dengan hasil imbang Chelsea versus Wigan maka—tanpa mengecilkan Arsenal—Ferguson semakin mudah saja mewujudkan ambisi terselubung. Betapa perih Chelsea jika kandang mereka dijadikan para punggawa Setan Merah berjingkrak ria mengangkat dan mencium trofi.

Selisih poin MU dan Chelsea kini lima. Berarti klub London barat itu harus mati-matian sudah harus bangkit untuk meraih kemenangan di Goodison Park—kandang Everton, Kamis (17/04) atau Jumat dinihari—WIB. Hanya bermain imbang dengan Everton maka keuntungan lebih dipegang MU yang baru akan menjalani partai ke-35 ke kandang Blackburn pada Sabtu (19/04). Di pertemuan pertama, The Toffees mampu menahan imbang Chelsea 1-1. Catat juga, MU yang dua partai terkahir menghadapi West Ham United dan Wigan memiliki keunggulan mutlak selisih gol. MU plus-54, berbanding Chelsea yang plus-35. Mampukah MU menambah perih Chelsea?

Jadwal partai MU dan Chelsea:
Man United:
19 April, Blackburn (A)
26 April, Chelsea (A)
03 Mei, West Ham (H)
11 Mei, Wigan (A)
Chelsea:
17 April, Everton (A)
26 April, Man United (H)
05 Mei, Newcastle United (A)
11 Mei, Bolton (H)

Sunday, April 13, 2008

MU Tutup Peluang Arsenal


Tiga musim tanpa satu gelar pun. Itulah nasib Arsenal dan Arsene Wenger. Secara matematis, kekalahan 1-2 (0-0) saat bertandang ke Old Trafford, kandang seteru abadi, Manchester United, Minggu (13/4), memang tidak serta merta menutup peluang The Gunners meraih gelar premiership di musim ini. Tapi, dengan empat partai tersisa dan tertinggal sembilan poin, nyaris mustahil bagi Francesc Fabregas dkk untuk menyamai atau bahkan melampaui perolehan nilai MU.

Wenger pantas mengutuk ‘ketidakbecusan’ Emmanuel Adebayor yang gagal mencetal gol meski telah berada dalam posisi yang sangat bebas untuk menjebol gawang Edwin van der Sar. Wenger pun pantas meratapi nasib timnya yang dijauhi dewi fortuna. Pasalnya, dalam laga penentuan ini, Arsenal boleh dibilang unggul peluang dari MU di sepanjang babak pertama sampai awal babak kedua.

Melayani tantangan Arsenal, Sir Alex Ferguson, seperti diperkirakan sebelumnya, memasang formasi striker tunggal plus lima gelandang. Park Ji-Sung yang tampil gemilang saat partai lawan Roma kembali diberi kesempatan sebagai starter. Di lain pihak, Wenger yang kehilangan Flamini mengubah formasi di lini belakang dengan memainkan Alexander Song Billong.

Unggul ball possession, Fabregas dkk berkali-kali mampu mengancam gawang MU. Di menit ke-13, misalnya, tendangan Adebayor meneruskan sodoran Emmanuel Eboue masih dapat diblok Rio Ferdinand. MU membalas lewat sundulan Ji-Sung yang masih melebar. Adebayor kembali mendapat peluang emas. Setelah melakukan kerja sama satu-dua dengan Fabregas, tendangannya masih tepat dalam pelukan Van der Sar.

Peluang terbaik bagi Arsenal dan Adebayor didapat di menit ke-33. Lewat akselerasi Aleksander Hleb, Adebayor berada dalam posisi satu lawan satu dengan Van der Sar. Sayang, peluang 99 persen gol itu melayang ketika tembakan striker Timnas Togo itu justru sangat lemah dan kembali mendarat di pangkuan Van der Sar. Sampai jeda kedudukan masih tetap 0-0.

Baru dua menit setelah Howard Webb meniup peluit kick-off babak kedua, Adebayor membalas lunas kesalahannya di babak pertama. Melihat pergerakan Van Persie di sayap kiri, Adebayor berkelit di antara penjagaan Ferdinand dan Michael Carrick. Umpan silang Van Persie disambutnya dengan sundulan yang tak mampu diselamatkan Van der Sar. Gol ke-26 bagi Adebayor di semua kompetisi. 1-0 untuk Arsenal.

MU tersengat. Tapi, justru semenit kemudian, gawang Van der Sar nyaris kebobolan akibat ‘ulah’ Ferdinand yang bermaksud menghalau bola Adebayor. Beruntung Van der Sar dengan gemilang mentip bola. Upaya anak-anak Ferguson membuahkan hasil di menit ke-54 lewat tendangan penalti dua kali yang dilakukan Ronaldo. Hadiah penalti diberikan wasit Webb yang melihat kapten Arsenal, William Gallas menyentuh bola dengan tangannya. 1-1.

Guna menambah daya dobrak tim, Ferguson melakukan dua pergantian pemain sekaligus, menarik Paul Scholes dan Ji-Sung dengan menurunkan Carlos Tevez dan Anderson. MU mulai menguasai jalannya permainan. Wenger membalas taktik Ferguson dengan menurunkan Theo Walcott. Tendangan Tevez dari jarak 27 meter tipis melebar dari gawang Jens Lehmann.

Suasana di Old Trafford gegap gempita ketika MU berbalik unggul 2-1 di menit ke-72 lewat tendangan bebas Owen Hargreaves dari jarak 22 meter. Diyakini, para pemain Arsenal menduga tendangan bebas itu bakal diambil Ronaldo. Alhasil, pagar betis The Gunners tak banyak bereaksi ketika Hargreaves mengeksekusi bola tersebut.

Di sisa waktu pertandingan, Arsenal berupaya keras menyamakan kedudukan. Wenger memasukkan si jangkung Nicolas Bendtner. Sayang, dua kali sundulan Bendtner di penghujung pertandingan masih dapat diselamatkan Van der Sar. Skor 2-1 tetap bertahan sampai peluit akhir berbunyi.

Berbekal tambahan tiga poin, jalan bagi MU untuk mempertahankan gelar Liga Premier semakin terbuka. Dengan unggul enam angka dari Chelsea yang baru akan bertanding Senin besok, partai antara kedua tim di Stamford Bridge, 26 April mendatang bakal jadi partai final premiership di musim ini.

Susunan Pemain:
MU:
Van der Sar, Brown (KK), Ferdinand, Pique, Evra, Ronaldo, Carrick (KK), Hargreaves (Giggs), Scholes (Anderson), Park (Tevez), Rooney.
Arsenal:
Lehmann (KK), Toure (Hoyte, KK), Gallas (KK), Song Billong, Clichy, Eboue (Walcott), Fabregas, Gilberto Silva, Hleb (KK), Van Persie (KK, Bendtner), Adebayor (KK).
Wasit: Howard Webb